Keai Moko ( Kisah Cerita Legenda Rakyat Madura)

Keai Moko ( Kisah Cerita Legenda Rakyat Madura)

 

ASAL  CERITA   : Desa Larangan Tokol

KECAMATAN : Tlanakan

T E M A          : lingkungan Hidup


Pada jaman dahulu, di sebuah dusun terpencil, tepatnya di daerah Larangan Tokol hiduplah seorang ulama terkenal bernama R. Wiko Kenongo. Tetapi, ia lebih dikenal dengan sebutan Ki Moko. Orang-orang di kampung tersebut belum mengetahui dari mana daerah asalnya. Kegemarannya memacing ikan. Tetapi, ikan-ikan hasil pancingannya  sebagian besar dibagi-bagikan pada penduduk di sekitarnya dan para santrinya. Ia cuma mengumpulkan mata ikan hasil tangkapannya dalam sebuah bumbung bambu.

Pada suatu saat, terdamparkan sebuah perahu saudagar dari Makassar. Perahu tersebut sudah beberapa hari terombang-ambing badai di tengah laut. Keadaannya sungguh mengenaskan. Dengan tertatih-tatih Saudagar tersebut menghadap Ki Moko yang sedang memancing.

“ Pak Kiyai, tolonglah kami! Sudah beberapa hari kami terombang-ambing di tengah laut. Persediaan makanan dan sebagian dagangan kami musnah di telan gelombang. Tolonglah kami, Pak Kiai !”

“ Siapakah Ki sanak sebenarnya ?”

“ Kami adalah saudagar dari Palembang. Kami mau ke Palembang hendak menjual koppra ke sana ? “

“ Kalau begitu mampirlah beberapa hari di pondok kami. Biarlah para santri saya memperbaiki perahu Ki Sanak!”

Sudah sekitar seminggu Saudagar tersebut berada di pesantren Ki Moko. Kapal yang ditumpanginya  telah diperbaiki atas bantuan para santri Ki Moko. Ia hendak melanjutkan perjalanannya ke Palembang. Ki Moko sangat terharu. Kemudian ia juga menitipkan salam pada Raja Palembang. Ki Moko melepas kepergian Saudagar tersebut dengan doa seraya berpesan agar ia mampir ke pondoknya setiap kali kembali dari perjalanannya.

Persahabatan Ki Moko dengan saudagar tersebut semakin akrap. Saudagar Kopra dari Makasar itu tidak bisa melupakan budi baik Ki Moko. Sebab atas bantuan Beliaulah ia bisa bertahan hidup, bahkan perkembangan dagangannya semakin besar. Setiap kali ia mengirim dagangan ke Palembang tidak pernah kembali bahkan selalu kekurangan. Begitu juga setiap kali membawa barang dagangan dari Palembang selalu terjual habis.

Pada suatu hari, Saudagar tersebut membawa berita bahwa Putri Raja Palembang sakit keras. Beberapa orang tabib kerajaan tidak mampu menyembuhkannya. Bahkan, Raja Palembang mengadakan sayembara. Siapa saja yang mampu menyembuhkan penyakit putrinya akan dijadikan menantu jika kebetulan penolongnya seorang laki-laki. Tetapi, jika perempuan akan dijadikan anak angkat. Ki Moko sangat teraru mendengar berita tersebut. Ki Moko terkenang kembali persahabatannya dengan Raja palembang ketika beliau belum meninggalkan kampung halamannya. Perpisahan Ki Moko dengan Raja Palembang karena suatu amanah suci yang diembannya.

Maka diutuslah putra Ki Moko menuju Palembang. Sebelum berangkat, putranya telah diberi bekal berupa aji-aji ampuh untuk melenyapkan berbagai penyakit. Beberapa bumbung bambu yang berisi mata ikan dibawakan juga untuk diserahkan kepada Raja Palembang. Tetapi Sang Putra tidak diijinkan membuka bumbung bambu tersebut kecuali di hadapan Raja Palembang .

Pada waktu yang ditentukan, berangkatlah putra Ki Moko menuju Palembang.  Ki Moko sendiri, tanpa sepengetahuan putranya, menyertai perjalanannya. Ia mengendarai sebuah pelepah pohon kelapa mengarungi laut lepas.

Beberapa hari perjalanan, putra Ki Moko telah sampai di Kerajaan Palembang. Keadaan rakyat di Pelembang benar-benar mengenaskan. Mereka dirundung kesusahan karena memikirkan penyakit putri Palembang yang tidak kunjung sembuh. Sayembara yang diadakan Raja palembang tetap berlangsung. Putra Ki Moko terus mengamati jalannya sayembara. Para Putra Mahkota dari raja-raja seberang banyak mengikuti sayembara tersebut. Begitu juga pada dukun dan tabib sakti. Namun, upaya untuk menyembuhkan penyakit putri tetap tidak berhasil.

Ketika tidak ada lagi peserta yang tampil, Putra Ki Moko  menyampaikan salam takdimnya.

“ Sebelumnya hamba mohon maaf  Paduka Yang Mulia. Jika  diperkenankan, Kami akan mengikuti sayembara yang paduka adakan !”

“  Anak Muda, sudah beberapa tabib dan dukun sakti gagal menyembuhkan penyakit putriku. Aku sudah putus asa. Jika kamu memaksa ikut, apa yang hendak kautaruhkan jika usahamu ternyata gagal ?”

“ Jika hal itu yang menjadi kehendak Paduka, Hamba rela mendapat hukuman apapun ! “ kata Pemuda tersebut dengan lemah lembut.

“ Baiklah! Saya ijinkan Kau mengobati penyakit putriku. Tetapi, jika gagal, Kau akan kuhukum pancung !”

“ Terima kasih, Paduka. “

Setelah mendapatkan ijin, Putra Ki Moko menjumpai Sang Putri. Keadaan Sang Putri benar-benar memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering. Cuma sinar matanya yang mampu membersitkan sisa-sisa kecantikannya. Sekujur tubuhnya terserang penyakit aneh, semacam penyakit kulit yang cukup ganas.

Putra Ki Moko segera mengeluarkan beberapa peralatan dan obat-obatan yang dibawanya dari Madura. Beberapa aji dan doa dibacakan untuk kesembuhan Sang Putri. Bahan-bahan tersebut kemudian dioleskan ke sekujur tubuh Sang Putri. Putra Ki Moko menunggu beberapa menit reaksi obat yang diberikannya.

Keringat dingin mulai membasahi kening Putra Ki Moko, ketika obat yang diberikannya ternyata tidak memberikan reaksi apa-apa. Ia khawatir jika usahanya gagal. Pastilah ia akan mendapatkan hukuman dari Sang Raja.

Ki Moko sendiri yang mengetahui kejadian tersebut tersenyum melihat kerisauan putranya. Tanpa sepengetahuan, putranya maka ditiupkanlah aji pamungkas yang dimilikinya ke tubuh Sang Putri. Seketika itu pula tubuh Sang Putri terjadi perubahan. Penyakit kulit yang dideritanya sedikit demi sedikit mulai terkelupas. Bahkan kulitnya yang terlihat kasar tersebut kembali pada keadaan semula. Kulit yang halus dan kuning. Putra Ki Moko tidak percaya pada kejadian di depan matanya. Karena tiba-tiba di depannya telah ada seorang putri cantik.

   “ Terima kasih, Kang Mas. Karena usaha Kang Mas aku bisa sembuh dari penyakit ini.”

Dewi Suminten, begitulah nama Sang Putri, segera memberitahukan kesembuhannya pada ayahandanya. Ayahanda sangat terkejut dan setengah tidak percaya pada keajaiban yang terjadi.   Maka ia segera memanggil Pemuda penolongnya. Putra Ki Moko kemudian menghaturkan sembah.

“ Aku sangat kagum akan kecerdasanmu menyembuhkan penyakit putriku. Sebab, sudah ratusan tabib dan dukun sakti dari wikayah kerajan dan manca negera tidak pernah berhasil. Cuma kaulah yang mampu menyembuhkannya. Siapakah Kau sebenarnya anak muda ?”

“ Maafkan hamba, Paduka ! Kami adalah putra Ki Moko dari tanah seberang. Tepatnya dari Madura. Hamba sengaja diutus oleh Ayahanda untuk membantu kesedihan Paduka. “

“ Benarkah Kau putra kakanda Ki Moko ? Oh, Kakanda, ternyata kau masih memperhatikan keadaanku.Bagaimanakah keadaannya,Anakku ? Apakah dia baik-baik saja?”

“ Berkat doa Paduka, keadaan ayahanda dalam keadaan sehat wal afiat. Bahkan beliau menghaturkan barang ini untuk Paduka !” ucap putra Ki Moko sambil menyerahkan beberapa bumbung  bambu.

Raja Palembang segera membuka bumbung bambu tersebut untuk melihat isinya. Ketika tutup bumbung itu dibuka maka keluarlah sinar kemilau dari dalam bumbung tersebut. Raja palembang, Putra Ki Moko dan semua hadirin yang berada di Balairung Istana tersbeut sangat terkejut ketika dari dalam bumbung bambu tersebut bertaburan intan berlian yang begitu banyak. Itulah tanda mata yang diberikan Ki Moko untuk melamar putri Raja Palembang sebagai menantunya.

Perkawinan Dewi Suminten dengan putra Ki Moko segera dilansungkan. Pelaksanaan pesta perkawinan tersebut dilaksanakan dengan sangat meriah. Gending-gending dan tarian dari beberapa daerah bawahan ikut memeriahkan suasana. Rakyat Palembang benar-benar sukacita. Ia sangat genbira karena penyakit putrinya telah sembuh dan telah mendapatkan jodoh seorang pemuda yang sangat sakti dan baik budi.

Ki Moko sendiri yang kebetulan mengikuti acara tersebut sangat gembira. Ia akan  melaksanakan kegiatan undang mantu. Karena itu ia segera kembali ke Madura guna mempersiapkan pelaksanaan undang mantu di daerahnya.

Beberapa hari, ia berkeliling desanya, melihat-lihat suasana yang ada. Hatinya benar-benar sedih. Padahal ia bermaksud melaksanakan undang mantu dengan pesta yang cukup meriah. Desa, tempat tinggalnya ternyata sulit mendapatkan air bersih. Kayu bakarpun sulit di dapat. Padahal pesta tersebut tentu saja membutuhkan air dan kayu bakar yang cukup banyak.Tidak ada sungai  untuk lalu lintas perahu jika nantinya  para tamunya akan berkunjung ke daerahnya.

Beberapa hari Ki Moko bertafakur, memohon pertolongan Allah SWT. Pada suatu malam Ki Moko menerima petunjuk Ilahi. Ia kemudian berjalan ke arah Barat Laut dari pesantrennya. Di daerah yang cukup berbukit, pada tanah yang retak-retak. Ia menancapkan daur pancingnya seraya berdoa,” Ya, Allah ! Dengan Kuasa-Mu  keluarkanlah bekas tancapan pancing ini suatu sumber api yang tak habis-habisnya, sehingga keluargaku dan masyarakatku dapat memasak apa saja di tempat ini !”

Suatu keajaiban pun terjadi ! Setelah daur pancing Ki Moko dicabut, dari bekas tancapan daur pancing itu tiba-tiba menyembur lidah api yang menyala-nyala. Keadaan di tempat itu berubah terang-benderang. Ki Moko melakukan sujud syukur dan berdoa agar api tersebut menjadi api yang tak kunjung padam. Setelah itu, Ki Moko berjalan ke arah Barat Daya, dan menancapkan daur pancingnya kembali. Ia memohon agar bekas tancapan daur pancingnya keluar sumber air panas yang bisa digunakan untuk menanak nasi pada saat pelaksanaan pesta undang mantunya. Sekali lagi, keajaiban pun terjadi. Bekas tancapan daur pancing tersebut tiba-tiba meluap-luap sumber  air panas yang sangat besar. Air tersebut sedikit berbau belerang. Ki Moko pun melakukan sujud syukur kembali.

Kini tinggal satu masalah yang belum teratasi. Masalah lalu lintas air jika nantinya para tamunya akan berlabuh mendekati pedukuhannya. Sebab, Jika para tamunya hanya berlabuh di perairan Selat Madura di Branta Pesisir, tentunya tama-tamu tersebut masih harus menempuh perjalanan darat. Padahal yang akan hadir pada pestanya adalah Sang Maharaja Palembang Sendiri, kawan sepermainannya waktu kecil.

Setelah mendapatkan petunjuk, Ki Moko menancapkan kembali daur pancingnya ke tanah. Tancapan tersebut dimulai dari dekat sumber air panasnya. Sambil memanjatkan doa-doanya yang ampuh, Ki Moko menorehkan tancapan tersebut menuju pantai. Keanehan pun terjadi, sebab bekas torehan daur pancing Ki Moko tiba-tiba berubah menjadi sungai yang cukup lebar. Sungai tersebut menghubungkan pedukuhan Ki Moko dengan Pelabuhan Branta Pesisir. Setelah itu, Ki Moko memohon kepada Allah agar pedukuhannya berubah menjadi Istana Megah yang mirip dengan Istana Kerajaan Palembang.

Pelaksanaan undang mantu antara Putra Ki Moko dan Dewi Suminten terlaksana dengan meriah. Gending-gending dan tarian mewarnai pelaksanana pesta tersebut. Begitu juga dengan pembacaan sholawat dan syair-syair keagamaan. Para tamu dan undangan sangat terkesan. Begitu juga Baginda Raja Palembang. Empat puluh hari empat puluh malam suasana pesta mewarnai Istana Ki Moko.

            Setelah empat puluh hari selesainya pelaksanaan pesta tersebut, tiba-tiba suatu keajaiban terjadi di daerah tersebut. Istana Ki Moko yang megah musnah. Istana tersebut berubah ke wujud semula, sebuah pedukuhan kecil dengan gubuk-gubuk yang ditempati para santri. Dewi Suminten dan Putra Ki Moko bingung.

            “ Anak-anakku, tak ada suatu yang abadi di dunia ini. Aku dan kalian berdua, ada dari ketiadaan.  Begitu juga dengan lainnya, termasuk Istana yang telah engkau tempati beberapa hari ini. Bertawakkallah Kepada Allah, pencipta-Mu. Karena hanya kepada-Nya-lah semuanya akan berpulang.” Ucap Ki Moko dengan mantap.

Dewi Suminten dan putranya masih memohon kepada Ki Moko agar istananya dapat terwujud kembali. Tetapi, Ki Moko tidak mampu mengabulkan permohonan tersebut.

Beberapa tahun setelah Dewi Suminten dan suaminya menetap di pedukuhan Ki Moko, akhirnya keduanya dipanggil pulang oleh Sang Baginda Raja Palembang. Raja Palembang yang sudah tua merasa tidak mampu lagi memimpin rakyat Palembang. Ia mewariskan kerajaan Palembang pada putrinya, Dewi Suminten. Akhirnya, Putra Ki Moko dinobatkan sebagai raja Palembang.

Kini petilasan Ki Moko tetap bertahan. Api Alam yang kunjung padam, sumber air panas dan belerang, dan sungai yang pernah dilalui para prajurit Palembang. Tempat-tempat tersebut banyak dikunjungi para wisatawan. Bahkan, sumber api alamnya sering digunakan untuk pengambilan api PON.

LEGENDA PUTRI AYU (Desa Jambringin Kecamatan Proppo)

LEGENDA PUTRI AYU (Desa Jambringin Kecamatan Proppo)

LEGENDA PUTRI AYU 

Asal             : Desa Jambringin Kecamatan Proppo
Tema            : Kesetiaan
 

Alur Cerita:

Pada zaman pemerintahan panembahan Bonorogo inilah Pamelingan diganti menjadi Pamekasan . Dengan diawali oleh panembahan Bonorogo tersebut kemudian masyarakat Pamekasan menganggap bahwa para leluhur penguasa Pamekasan berasal dari jamberingin.

Kerajaan Jemberingin mulai mundur bahkan putra kerajaan Jamberingin yaitu Pangeran Nugroha tidak menggantikan Ayahnya di Jemberingin melainkan menetap di Pamekasan . Pada  Akhirnya Jamberingin memang kehilangan kejayaan dan dihari kemudian Jamberingin hanya merupakan Desa yang ditinggalkan oleh pendirinya. Walaupun demikian penerus Jamberingin tidak lenyap seluruhnya sebab kemudian disebelah timur bekas kerajaan Jamberingan berdiri pedukuhan baru yang bernama Gayam . Ternyata Gayam masih menyandang kebesaran Jamberingin, karena penduduk Pamekasan menganggap para sepuh Pamekasan berasal dari kerajaan yang sudah lenyap tersebut.

Namun sebutan tempat tersebut bukan lagi Jamberingin atau Gayam yang menjadi kenangan masyarakat tetapi masyarakat cuma menyebut tempat sebagai asalnya sebagai asalnya para sepuh.

Di ceritakan pada jaman kerajaan Pamekasan dan Madegan kedua kerajaan tersebut menjodohkan Raden Bagus dari Madegan dipertunangkan dengan Dewi Sekar dari Pamekasan . Karena mereka masih remaja maka pernikahan mereka tidak terburu – buru dilaksanakan. Tentu saja keterangan tersebut sangat menarik bagi Raden Bagus dan dia kemudian minta untuk diantarkan ketempat mereka.

Namun Raden Bagus setiap bulan purnama pergi ke Pamekasan menemui Dewi Sekar Tunangannya , Perjalanannya Raden Bagus melewati Jamberingin dan biasanya setelah Bulan sepenggallah di angkasa  Raden Bagus tiba di Pamekasan . Demikian setelah Raden Bagus tiba kembali ke Madegan .

Demikian selalu dilakukan oleh Raden Bagus hingga beberapa kali Purnama . Di suatu malam seperti biasanya Raden Bagus berangkat ke Pamekasan bersama para pengikutnya namun setiba di Jamberingin salah satu kaki kudanya terperosok pada sebuang lubang yang tidak terlalu dalam . Raden Bagus segera memeriksa kaki kudanya , untunglah tidak mengalami cidera . Tiba – tiba Raden Bagus bagaikan orang baru tersadar dari pingsan .

Pandangannya seperti menyapu bersih alam setempat , Raden Bagus setengah memperhatikan datangnya suara Dendang Lir Sa Alir dalam pandangan keheranannya tersebut , seorang dari pengiringnya menjelaskan kalau apa yang terdengar itu adalah Dendang anak Dara Jamberingin yang sudah mereka lakukan pada setiap bulan purnama .

Dewi Sekar mengutus salah satu pengringnya ke Jamberingin guna mengintai perjalanan Raden Bagus. Demikianlah apa yang tersimpan dalanhati Raden Bagus selama itu terbongkar juga . saat itu mata – mata Dewi Sekar melihat Raden Bagus sedang janji bersama kekasih gelapnya .namun para pengiring segera mengingatkan bahwa saat itu masih ada tugas yang belum diselesaikan kunjungan ke Pamekasan .

Rasa keinginan untuk mengetahui mereka yang berdendang mengalahkan peringatan tersebut , akhirnya rombongan Raden Bagus mendekat kekelompok dara yang lagi asik bermain dan berdendang , tanpa setahu mereka Raden Bagus dapat menikmati permainan para dara tersebut . Namun akhirnya salah seorang dari mereka tahu adanya pengintip , matanya kini bertemu pandang dengan tatapan Raden Bagus yang sebenarnya.

Sejak lama sudah memperhatikannya bersamaan dengan itu pula Raden Bagus mendapat peringatan dari pengiringnya untuk meneruskan perjalanannya . Ternyata Raden Bagus tidal banyak tingkah lagi dengan sedikit mengaangkat tangannya yang diarahkan kepada Sang Dara ia berbalik dan menaiki kudanya kembali dan diikiti semua anggota rombongan. Sedikit terlambat tiba di Pamekasan namun masih dalam batas halangan yang mungkin terjadi karena terperosonya kaki kuda Raden Bagus yang menjadi pembicaraan saat kedatangan rombongan tersebut .

Demikian pula kunjungan purnama berikutnya walaupun juga terlambat masih di anggap oleh Sang Dewi tidak ada masalah . Ternyata pada kunjungan berikutnya kedatangan sang Raden Bagus makin terlambat karena itu alasan yang diajukan Sang Raden Bagus membuat Sang Dewi bimbang . Akhirnya Sang Dewi mendengar kabar Grimbung bahwa Sang Raden ada percintaan dengan Dara Ayu ( Putri Ayu ) Jamberingin karena itu pada saat bulan purnama berikutnya Sang Dewi menugaskan pengawalnya .

Mata – mata tersebut mendengar jelas bagaimana Raden Bagus memahat batu dengan ujung kerisnya , sebuah pahata ladan kuda . Juga pengintai mendengar tatkala Raden Bagus bersumpah bahwa selama pahatan ladan kuda tersebut melekat di atas batu selama itu pulalah cinta kasih Raden Bagus terhadap Putri Ayu .

Demikianlah pengintai kebali ke Pamekasan dan menyampaikan apa – apa kepada Sang Dewi . Menerima penuturan demikian Sang Dewi marah dan semua pengawalnya dikumpukan dan mengeluarkan perintahnya untuk bersiaga .purnama hampir tepat diatas kepala tatkala Raden Bagus tiba di Pertamanan Sang Dewi dengan sabar menunggu seperti biasa , Namun apabila Raden Bagus sempat tahu apa yang tersimpan di dada tunangannya Raden Bagus masih sempat bersikap mau memulas keterlambatannya . Sang Dewi masih diam tetapi kemudian terdengar Sang Dewi menbentak dan seketika itu pula keluarlah para pengawal Sang Dewi dengan membawa masing – masing senjata .

Tanpa sepatah katapun mereka terus menghujamkan senjata mereka kepada tubuh Raden Bagus . Raden Bagus yang tidak siaga dan tidak menyangka datangnya serangan tersebut seketika itupula jatuh tersungkur dan tewas . Untuk beberapa saat keributan  banyak terjadi banyak orang menyangka akan terjadi perang antara Madekan dan Pamekasan . Madekan sendiri telah tahu penjelasannya . Jenasah Raden Bagus pada malam itu juga diangkat orang menuju ke Madekan . Para pengusung jenasah tak terasa berbelok menuju batu ceper tempat Raden Bagus memahat dan mengukir janjinya .

Disitu Putri Ayu menunggu dengan wajah sembab menahan tangis ketika kedatangan jenasah Raden Bagus di Jamberangin . Demikian setelah jenasah di dekatnya Putri Ayu langsung melompat dan memeluknya . semua orang yang berada disitu merasa hiba dan mencucurkan air mata . Begitu lama Putri Ayu memeluk jenasah kekasihnya , hingga beberapa orang berusaha melepaskannya . namun ternyata Putri Ayu sudah menjadi mayat juga . Rupanya Putri Ayu lansung menjatuhkan diri diiringi dengan tusukan sebilah keris yang ditancapkan ke Ulu hatinya , Putri Ayu bunuh diri .

Betapa terkejunya semua orang yang berada ditempat itu , bahkan kedua jenasah itu melekat terlalu rapat dan tidak dapat di pisahkan . kedua jenasah tersebut diangkat dalam suatu usungan menuju ke Madekan . sesudah sampai di Madekan mereka ditaman dalam suatu lubang / kuburan .Dihari kemudian putri Ayu dinamakan orang Jamberingin Putri Ayu bunuh diri ( POTRE AJU ASODDUK RAGA ) dan juga ada yang menamakan : BUJUK LIR SA ALIR karena putri Ayu pada hidupnya selalu berdendang dengan lagu Lir Sa Alir .

Selanjutnya masyarakat Jamberingin tiap tanggal 15 bulan Rajab memperingati Putri Ayu ditempat batu ceper di Desa Jamberingin dengan mendendangkan lagu Lir Sa Alir yang pada umumnya lagu Lir Sa Alir tersebut dinyanyikan oleh kaum wanita yang sudah lanjut . Karena itu kisah Putri Ayu tetap menjadi peringatan para kaum wanita muda desa Jamberingin sampai sekarang ini .


Pakaian (angghuy) Adhât Khas Madhurâ

Pakaian (angghuy) Adhât Khas Madhurâ

Pakaian (angghuy) Adhât Khas Madhurâ 

Angghidhân: H. Sastro

Angghuyyâ Adhât khas Madhurâ ka’ḍinto aropa’aghi dhâdhingghâlân leluhur kabit ḍhimèn. Pramèla ḍâri ka’ḍinto ngèrèng èmodhi polè, nyopprè ta’ èkaloppaè otabâ èlang. Dhinèng Angghuy Adhât khas Madhurâ bâḍâ 2 macem kapprana èangghuy bâkto acara (partèngkan) akadhi pasèmowan pangantan tor laènnèpon. Dhâddhi bânnè èangghuy rè- saarèna è po’compo’. Angghuy adhât khas Madhurâ sè 2 macem engghi panèka:

       1.    Angghuy Adhât khas Madhurâ ra’yat

            Angghuy Adhât khas Madhurâ bangsawan (parjâji)

      Jhâjhârbhâ’ân angghuy adhât sè 2 macem

I.        Angghuy Adhât khas Madhurâ ra’yat

1.    Lalakè’

a.    Sèra (cèthak) ngangghuy Oḍheng sè èsambhât Storjowan, kalabân bârna ḍhâsar Mèra bhâta

Bhângonna:

Ø 

èattas abukka’ (bolong)

Santabhân

Ø  Ghunongan

b.    Rasoghân (kalambhi) èsambhât Pèsa’ abârna petteng, sè umum celleng bân ta’ mabi kancèng, tengnga cekkèng

c.     Kaos oblong abârna potè sareng mèra (lâng – belling)

d.    Sabbhu’ (panyèngset) esambhât Keppèk

Bhângonna:

Èbhâdhi ḍâri kolè’na sapè (samacemma) kalabân lèbâr antara 10 – 15 Cm. 

È kangan kacèrra èpasangè kanthong, kennengnganna obâng

e.    Calana lèbâr èsambhât Gombor abârna celleng tor angghuyanna saparo bettès

f.      Sanḍal èsambhât Trompa èbhâdhi ḍâri ban motor.

 

2.    Bâbinè’

a.    Sèra, aghellung Senta’an kalabân èpasangè coco’ konde dinar (obâng rècè Hindia Belanda: talèn, okon, jhâmpel, ringgit) monnghu orèng sè soghi.

Coco’ Arnal mongghu orèng sè ta’ mampo

b.    Kotang potongan lèbar sampè’ è attas tèng- èntèngan èpasangè sandat (talè kotang) è maso’aghi ḍâ’ bhâu kangan kacèr, abârna polos otabâ solaman

c.     Kalambhi èsambhât Kebaya èbhâḍhi ḍâri kaèn farokat abârna naggras (celleng, konèng, mèra).

È ḍâḍâ èpasangè tutup baru ( kaèn tambâ’ân).

Kancèng èpasangè obâng mas/ dinar, mongghu orèng sè soghi.

Bhângonna tengnga nyekkèng, bâbâ mekkar.

d.    Sampèrra bânnè sampèr, tapè sarong binè’

Bhâtègghâ polèng, lèrès tor thak- kothak kènè’ (bhâtèk Madhurâ).

È buḍi atompal. Angghuyânna ta’ nyèccèng

e.    Sabbhuk è sambhât Èpèk, èbhâḍhi ḍâri kaèn sè tebbel kalabân okoran:

Lèbâr ± 15 Cm, Lanjhâng ± 2 Mèter bârna mètorot kasokanna.

f.      Sanḍâl            ta’ mabi asanḍal namong ngangghuy Ghellâng soko sè èsambhât Binggel èbhâḍhi ḍâri pèra’

g.    Hiasân : Antèng sè èsambhât Antèng kolang

Abhângon tèra’na bulân antara tangghâl 5-8

 

Tambâ’ân:

Angghuy (Busana)  Adat khas Madhurâ ra’yat è 4 kabhupatèn ḍâ- paḍâ (taḍâ’ bhidhâna)

II.      Angghuy (Busana) Adhât khas Madhurâ Bangsawan/ Parjâji  Pamekasan.

1.    Lalakè’

a.    Sèra (cèthak) Oḍheng Pèrèdhân otabâ Tongkos, abârna coklat, mèra sareng konèng kalabân bhâtèk Sekkar Jhâghât

b.    Rasoghân abhângon Jas totop sè èsambhât Biskap abarna celleng.

Dhinèng kanthongnga èpasangè Jhâm Kanthong atalè rantay pèra’, ètalèyaghi ka kancèngnga

c.     Kaos bèbas asabâb ta’ kaoladhân.

d.    Sabbhu’ bèbas jhughân

e.    Asampèr bhâtèk Sekkar Jhâghât akor sareng Oḍheng.

Dhinèng bâgiyân aḍâ’ èwiron sè lèbârrâ ± 3 nyarè.

f.      Soko asanḍal Sellop è konco’ tompol

 

2.    Bâbinè’

a.    Sèrana aghellung sè èsambhât Ghellung Malang (gellung tekuk) èpasangè coco’ konde ḍâri logam otabâ tolang.

b.    Kotang potongan lèbar èpasangè sandat (talè kotang), sabâb ḍhimèn taḍâ’ kotang BH

c.     Kalambhi èsambhât Kebaya sè ta’ mabi Tutup Baru (Kaèn Tambâ’ân).

Kalambhi kasebbhut èbhâḍhi ḍâri kaèn Gluddru abârna celleng.

Lanjhângnga kabâbâ èbâbâna bângkong sakonè’ tor konco’na tajhem.

d.    Sampèrra bhâtèk Sekkar Jhâghât akor sareng sampèrra lalakè’

Dhinèng bagiyân aḍâ’ èwiron, lèbârrâ ± 2 Cm

e.    Sabbhu’na asabbhu’ Èpèk paḍâ sareng sabbhu’na ra’yat bâbinè’.

f.      Soko asanḍal Sellop bâbinè’

 

Tambâ’ân:

Angghuy (Busana)  Adhât khas Madhurâ Bangsawan ḍâri 4 kabhupatèn ḍâ- paḍâ, namong bhidhâna bhângon oḍhengnga. Saterrossèpon ngèrèng praktekaghi, kadhi ponapa carana ngangghuy







Pakem Maddu Gelar Diklat Pelestarian Bahasa Sastra dan Budaya Madura

Pakem Maddu Gelar Diklat Pelestarian Bahasa Sastra dan Budaya Madura

Yayasan pelestarian dan Pengembanagan Bahasa dan Sastra Madura Pakem Maddu menyelenggarakan  diklat bahasa madura tingkat SD/MI/SMP/MTs, SMA/MA dan Umum, dengan tema “Revitalisasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Madura Melalui Diklat Penguatan Kompetensi Guru di Era Digital”.

Ketua Yayasan Pakem Maddu, Dr. Moh Hafid Effendy mengatakan, belakangan ini banyak guru-guru yang kemampuan berbahasa maduranya kurang baik. Sehingga dianggap penting untuk diselenggarakan diklat.

“Alhamdulilah pesertanya mencapai 75 pendaftar se Madura, dari empat kabupaten di Madura,” jelasnya, senin (2/10/2023)

Sejumlah materi diangap perlu untuk disampaikan lebih intensif. Diantaranya teknis menulis carakan madura, teknis nembhang macapat, teknik menulis dan membaca puisi, teknis menulis cerpen, cara berpidato bahasa madura, serta  stand up komedi dan mendongeng.

“Ada tujuh materi yang diajarkan selama tiga hari. Karena hal itu sangat penting,”rincinya.

Sebagai tindak lanjutnya, tahun depan akan diselenggarakan berbagai lomba yang berkaitan tujuh materi itu. Diantaranya lomba menulis  carakan, mendongeng, pidato, tembhang, hingga stan up komedi.

“Ini untuk tahun depan akan ditindak lanjuti dengan lomba, baik untuk guru dan murid,”pungkasnya. (sumber:rri.co.id)